Profil Wilayah Rt 68
SEJARAH SINGKAT RT 068
PADUKUHAN SUNGAPAN DUKUH, KALURAHAN ARGODADI,
KAPANEWON SEDAYU, KABUPATEN BANTUL, PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Rukun Tetangga/RT 068 secara Geografis terletak di Padukuhan Sungapan Dukuh, Kalurahan Argodadi, Kapanewon Sedayu, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. RT 068 saat ini dipimpin oleh Bapak Hari Nugroho yang terpilih secara aklamasi pada hari Sabtu Wage tanggal 15 Oktober 2022. Data penduduk RT 068 berdasarkan update rekapan data penduduk pertanggal 15 November 2025 terdiri dari
1. Kepala Keluarga : 29 KK
2. Penduduk Laki-laki : 44 Jiwa
3. Penduduk Perempuan : 47 Jiwa
4. Jumlah Penduduk : 91 Jiwa
Secara infrastruktur RT 068 adalah daerah yang maju dalam arti warga RT 068 sudah berpendidikan menerapkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), rumah warga sudah teraliri listrik, penerangan jalan yang bagus dibulan November tahun 2023 dengan meteran yang sudah terdaftar di Dinas Perhubungan, kondisi jalan Kabupaten sudah ber aspal dengan baik sejak tahun 1990-an, jalan masuk gang sudah 2 kali mendapatkan program corblok dibulan Maret dan Juni tahun 2024, drainase sawah dan sekitarnya bagus sejak bulan Juni 2010, berdiri jembatan besi yang kokoh sejak tahun 1990-an terakhir di renovasi tahun 2018 sebagai penghubung jalannya roda ekonomi, untuk keperluan MCK tercukupi air sumur dan PDAM, sebagian warga bermata pencaharian petani, buruh, pedagang, karyawan dan pegawai.
Syukur Alhamdulilah kami sebagai warga RT 068 dilahirkan dan dibesarkan disini, tempat kami hidup dengan rukun, damai, tentram, bahagia, berkumpul bersama, beraktifitas, beribadah, menikmati pemandangan alam yang indah, jauh dari polusi udara, serta keramaian kota.
Kami warga RT 068 merasakan kedamaian dan ketenangan, setiap menjelang malam datang diiringi dengan suara khas binatang malam dari jangkrik, belalang hingga katak yang membersamai lelapnya istirahat kami. Setiap pagi selalu diiringi dengan suara ayam bersautan berkokok, seolah membangunkan kami ketika adzan subuh berkumandang. Sang surya perlahan lahan muncul kemerahan untuk menampakan cahayanya yang terang diiringi kicauan burung nan merdu.
Terlihat luas dibelakang rumah kami, nampak hamparan hijau sawah milik petani warga RT 068 maupun warga lainnya. Sawah tersebut terdiri dari bulak Segedong dan bulak Mbangkereb yang sebelah barat berbatasan langsung sungai Konteng. Menurut cerita sesepuh kami kenapa dinamakan bulak Segedong karena dulunya terdapat sumur tua ditengah sawah yang dikelilingi dengan batu-batu yang tersusun rapi dimulut sumur tersebut, akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu sumur tersebut sudah tidak ada lagi. Batu-batu tersebut diambil oleh (Alm) Bapak Nur Salim untuk membangun pondasi langgar dirumah (Alm) Simbah Amat Rejo. Asal usul nama bulak Mbangkereb dahulunya terdapat Pohon Dadap yang cukup besar di daerah tersebut, sebelumnya daerah tersebut menjadi 3 bagian dengan nama pertama Blimbing pekarangan rumah (alm) simbah Khasan, kedua bernama Mbangkereb pekarangan rumah (alm) simbah Atemo, ketiga bernama Putat pekarangan rumah (alm) simbah Somejo. Seiring berjalannya waktu ketiga tempat tersebut dipilihlah nama Mbangkereb yang dipakai sampai sekarang.
Dalam setahun para petani menanam padi 2 kali masa panen, kemudian disambung dengan menanam palawija seperti jagung, kedelai, mentimun, singkong, ubi jalar, sorgum, cabai, kacang-kacangan serta sayuran bayam, sawi, kemangi, tomat, pare, kecipir, kemangi dan sebagainya karena irigasi daerah kami sangat bergantung dengan musim penghujan. Dengan warisan ilmu leluhur tanpa mengesampingkan kalender petani atau sering disebut dengan istilah Pranoto Mongso yaitu system 2 kali padi dan 1 kali palawija tersebut maka diharapkan mata rantai hama akan terputus. Para petani juga memanfaatkan sawah untuk menanam rumput kolonjono untuk kebutuhan pakan ternak, dan dari hasil ternak tersebut maka akan menambah penghasilan petani disamping kotoran ternak yang berguna untuk pupuk tradisional. Disaat musim penghujan tiba, kami warga RT 068 juga sudah mempunyai saluran drainase memadai sehingga dapat menampung luapan air baik dari sawah maupun air kiriman dari hulu yang terhubung berakhir di sungai Konteng.
Untuk kebutuhan pengairan sawah di musim kemarau, kami secara gotong-royong memanfaatkan sungai Konteng untuk disedot ditampung di penampungan air yang sudah dibuat, kemudian dialirkan ke sawah warga, serta ada beberapa petani yang berinisiatif membuat sumur kecil. Warga RT 068 juga memanfaatkan pekarangan rumah dengan menanam buah-buahan seperti kelapa, pepaya, pisang, jambu, jeruk, belimbing, mangga, sawo untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga serta sebagian dijual kepasar ataupun pengepul. Sebagian warga juga bertenak unggas seperti ayam, bebek dan itik yang dapat membantu meringankan beban ekonomi warga. Masyarakat juga sadar lingkungan dengan saling menjaga kebersihan pekarangan rumah masing-masing sehingga kerapihan lingkungan RT 068 terjaga dengan baik. Dengan sumber daya manusia yang kami miliki, kami bertekad menjaga, mengolah dan memanfaatkan sumber daya alam sekitar yang telah dianugerahkan tanpa merusak lingkungan.
Masyarakat RT 068 selalu kompak dalam menjaga persatuan, kerukunan, kebersamaan walaupun disibukan dengan pekerjaan ataupun kepentingan pribadi terbukti dengan kegiatan arisan, ataupun aktifitas sosial keagamaan, bergotong-royong secara bergilir apabila ada yang punya “gawe” seperti hajatan acara pernikahan, ngunduh mantu, mapati, mitoni, aqiqoh, sunatan, ataupun dalam acara meninggalnya warga dari kirim doa tahlil mulai hari H s.d 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1.000 hari. Kegiatan yang melibatkan warga RT lainnya juga dipertahankan dan dilestarikan seperti gali kuburan secara bergilir perkelompok, Pengajian, tradisi Wiwitan, Baritan, Tirakan 17 Agustus, Ruwahan, Malem Selikuran, Nyadran, Suran, Merti Dusun sebagai kekayaan Budaya Desa. Demikian juga dengan menjaga hubungan baik antar RT lainnya serta dengan perangkat pemerintah mulai dari Padukuhan, perangkat Kalurahan sampai perangkat Kabupaten, dengan harapan program pemerintah benar-benar sampai ke masyarakat tingkat bawah.
Peran dari Ketua Rukun Tetangga (RT) adalah sentral sehingga benar-benar bersentuhan langsung dengan warga. Ketua RT harus tanggap dan peka terhadap lingkungan, bersikap adil, sebagai pemersatu, pelindung, penyambung aspirasi bagi warganya. Secara administrasi Ketua RT mencatat pembukuan dan pemberian surat pengantar RT untuk pencatatan anggota keluarga baik yang melahirkan atau kematian, penambahan anggota keluarga karena pernikahan atau perceraian juga dengan pencatatan tamu yang menginap dirumah warga lebih dari 1×24 jam.
Kegiatan arisan di RT 068 di bagi dua yaitu untuk kelompok bapak-bapak dilaksanakan pada malam setiap hari Ahad Pahing untuk tempatnya secara bergilir dirumah warga, sedangkan kelompok ibu-ibu dilaksanakan pada hari Ahad Wage dan Ahad Kliwon ba’da dhuhur disetiap bulannya bertempat dirumah Ketua RT 068. Adapun kegiatan ditiap agenda selain arisan juga terdapat simpan pinjam, pengumpulan kas, dan penyampaian informasi berkaitan dengan kegiatan kemasyarakatan. Kegiatan ini dipimpin oleh Ketua RT 068 untuk kegiatan bapak-bapak dan para sesepuh warga RT 068 sebagai penasehat. Untuk arisan ibu-ibu dipimpin oleh ibu RT 068 dan sesepuh sebagai penasehat. Kegiatan ini sangat bermanfaat menjaga silaturahmi antar warga juga salah satu upaya menjaga kerukunan dan kebersamaan antar warga RT 068.
Pada awalnya Rukun Tetangga (RT) 068 dahulu bernama Rukun Tetangga (RT) 07 dibawah Rukun Warga (RW) 34. Namun Pemerintah Kabupaten Bantul menghapus jabatan Ketua RW dengan Perda pada tahun 2009, dikarenakan sudah terdapat Padukuhan di Kabupaten Bantul. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa peran Kepala Padukuhan atau Dukuh di Kabupaten Bantul lebih penting dari pada Ketua RW. Dukuh lebih memiliki waktu dan fokus yang terarah untuk melayani dan memberdayakan masyarakat di wilayahnya, penghapusan RW cukup efektif, lebih efisien dan memudahkan masyarakat dalam mengurus administrasi.
Berikut adalah nama-nama Ketua RT ditempat kami diantaranya:
1. Alm. Bapak Suharjo menjabat ± 10 tahun.
2. Bapak Ngadimin ± 5 tahun
3. Bapak Muhalim ± 8 tahun
4. Bapak Hari Nugroho tahun 2022 sampai sekarang.
Ketua RT pertama adalah almarhum Bapak Suharjo dimana Ketua RT saat itu dipilih dengan cara pilihan/musyawarah, beliau menjalankan tugas selama 10 tahun. Saat itulah kegiatan rutin arisan RT ibu-ibu untuk pertama kali dilaksanakan pada hari Ahad Wage tanggal 15 Januari 1995 bertempat di rumah almarhum Bapak Suharjo dan almarhumah Ibu Aisyah. Kenangan yang masih berdiri kokoh sampai saat ini adalah bangunan Tugu Projo Taman Sari yang berada di pinggir jalan, bukti bahwa kami warga RT 068 sangat menghargai perjuangan leluhur dalam bahu membahu secara gotong-royong membangun Tugu tersebut. Kami bertekad akan mempertahankan dan menjaga Tugu tersebut
Setelah dasa warsa maka terpilihlah Bapak Ngadimin beserta Ibu Marsiah sebagai Ketua RT. Kegiatan arisan Bapak-bapak dan Ibu-ibu juga masih berlanjut dengan mulailah dirintis pengadaan inventaris untuk kebutuhan warga seperti peralatan masak, tratag dan seng. Tahun. 2006 adalah masa yang sulit bagi masyarakat RT 068 karena terdampak gempa bumi yang merusak rumah warga hampir 90%. Dibutuhkan waktu yang lama untuk memulihkan kondisi tersebut. Bapak Ngadimin menjabat sebagai Ketua RT selama ± 5 tahun.
Kemudian ditahun berikutnya terpilih Bapak Muhalim beserta Ibu Sri Mulyati sebagai Ketua RT dan menjalankan tugasnya ± 8 tahun. Saat itulah barang inventaris tingkat kelompok Sungapan Dukuh Utara yang disimpan di Poskampling dibagi menjadi 4 (empat) RT. Dampaknya barang inventaris RT 068 tidak mempunyai tempat untuk menyimpan barang-barang tersebut sehingga saat itu meminjam disalah satu rumah warga.
Pada hari Sabtu Wage tanggal 15 Oktober 2022 bertempat di pendopo Sanggrahan diadakan pemilihan Ketua RT 068, dan secara aklamasi terpilihlah Bapak Hari Nugroho serta Ibu Suryani yang dipercaya mengemban amanat sebagai Ketua RT 068 sampai dengan saat ini. Tidak memungkiri bahwa diera kepemimpinan Bapak Hari Nugroho banyak perubahan yang terjadi baik dibidang infraktruktur maupun penambahan inventaris RT 068.
Dalam infraktruktur terdapat kemajuan sebagai berikut:
1. Meteran PLN terdaftar Dinas Perhubungan bulan November 2023 untuk terhubung seluruh penerangan Jalan RT 068 sampai dengan halaman rumah budaya “Sanggrahan”.
2. Jalan Corblok area Mbangkereb sampai selatan bulak Segedong sepanjang 100 meter bulan Maret 2024.
3. Jalan Corblok gang masuk Segedong dan talud jalan sawah Segedong bulan Juni 2024.
4. Penambahan inventaris sebagai berikut: Kursi plastik 100 pcs, Meja plastik 10 pcs, Tikar 6 pcs, Soblok, Kompor gas besar dan peralatan masak lainnya.
Di wilayah RT 068 terdapat rumah budaya yang bangunannya berbentuk pendopo yang disebut “Sanggrahan”, yang di resmikan sebagai Rumah Budaya Argodadi pada tanggal 20 September 2017 bersamaan dengan acara Rosulan malam Satu Suro. Pendopo tersebut adalah warisan rumah peninggalan Eyang Raden Nganten (Alm) Prawiro Diharjo eyang dari Bapak H. Setyo Pranyoto S. Sos. Bangunan ini pernah dijadikan SR (Sekolah Rakyat) atau SD Sungapan 1 dan 3 hingga tahun 1969-an.
Pendopo Sanggrahan menjadi tempat kegiatan berbagai acara baik RT maupun tingkat Pedukuhan, Sebagai warga yang baik kami tetap menjaga kelestarian budaya daerah kami, sehingga di tempat ini juga sering di adakan karawitan, pengajian, acara malam 1 suro/1 muharrom serta acara 17 agustusan.
Demikian sejarah singkat RT 068, semoga bermanfaat untuk masyarakat luas. Terima kasih.
Sungapan Dukuh, 15 November 2025
Hari Nugroho


